Senin, 26 Mei 2014

Jojo yang Hilang



Kepergiannya mebuat hidup sepi, kesepian ini membuat hati menjadi pilu, kepiluan ini membuat pikiran kacau, dan ke kacauan ini membuat tubuh ini tak berdaya. Cintanya membuat ku buta, aku tak dapat lagi melihat sosok cantik lemah gemulai di luar sana, yang aku mau hanyalah dia, dia dan dia. Jojo hanyalah wanita biasa tapi dia telah memikat hati ini dan membawanya pergi bersama cinta yang ku beri, cinta yang tulus dari hati yang selama ini aku sematkan di hatinya, tapi apalah daya dia pergi meninggalkan ku.

Tuhan belum puas dengan apa yang aku derita saat ini, Ditengah kesakitan datanglah sebuah undangan berwarna merah muda berbalut taburan gambar bunga yang menghiasi racun hati, hati ini semakin sakit dan semakin sakit, jika pepatah mengatakan “sudah jatuh tertimpa tangga” maka yang terjadi denganku bukan hanya tertimpa tangga tapi mungkin tertimpa gentengnya juga. Di kertas beracun itu tertulis nama ku “Aji”, nama ku tertulis bukan mendampingi sang mempelai wanita, akan tetapi menjadi tamu undangan di pesta pernikahan mereka berdua, saking sakitnya hati ini aku tak kuasa untuk melihat nama mempelai pria yang menggantikan posisi ku dihatinya, aku hanya bisa menangis, menangis dan menangis di setiap waktu ku.

Betapa mudahnya Jojo melupakan ku dan memilih hidup dengan pria lain selain aku, apakah dia sudah lupa dengan semua kenangan kita? Apakah dia lupa dengan janji-janjinya? “aku tak akan meninggalkan mu, aku hanya milik kamu, dan aku akan slalu dihatimu!” dia selalu mengatakan “aku dan perasaan ini tak kan pernah berubah sedikitpun” tapi mana buktinya? Yang ada dia hanya meninggalkan perih di hati, perih karena luka tergores cinta, cintanya tak semanis parasnya. Kini tingallah sebongkah hati yang terluka, hati ini mediami sebuah jiwa yang tak bernyawa.

Aku tak tau apa yang harus aku lakukan saat ini, mati susah hiduppun susah, jika saja Tuhan bisa mengambil semua isi hati ini aku akan berikan isi hati ini pada sosok pria yang menggantikan ku, agar dia bisa mencintai wanita idaman ku seperti aku mencintainya. Biarkanlah aku tersiksa asalkan dia bahagia, biarkanlah aku merana asal dia tak sengsara.

Hari-hari berlalu begitu cepat, hingga saatnya tiba, sang putri di persunting oleh sang pangeran pilihannya, aku tak mampu untuk menyaksikannya, yang bisa kulakukan hanyalah mendoakan dari balik dinding kamar yang dingin ini. Aku hanyalah manusia biasa yang memiliki rasa benci dan juga rasa iri, aku sangat membenci pria itu, dan aku sangat iri padanya, “mengapa selama ini aku yang hidup bersamanya dan mengapa dia yang mendapatkannya? Tuhan ambillah nyawa yang tak berguna ini, aku tak kuasa menahan penyiksaan dunia yang pahit ini!” ingin rasanya aku menjerit, menjerit hingga suara ini hilang, hingga hati ini hilang dan hingga nyawa ini hilang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar