Pernah kah berpikir bahwa orang
yang selama ini kita cinta adalah seseorang yang selalu menghianati kita?
Pernah kah berpikir bahwa orang yang selama ini hidup bersama kita ternyata
hatinya milik orang lain? Itulah seperti yang ku alami saat ini, aku Anisa aku
dipersunting pria yang semula ku anggap sebagai pria baik hati yang mau
menerima segala kekurangan ku, Dia Anton yang ku kenal 3 bulan yang lalu, kita
menikah di bulan ke dua kita kenal dan jalan bersama, aku pikir smua kata
cintanya itu tulus dari dalam hatinya, aku pikir hanya dengan mengandalkan
bahwa aku mencintainya maka kita akan bahagia, ternyata tidak. Diawal
pernikahanku ini banyak sekali sanak saudara yang menanyakan asal-usul pria
idaman ku ini, “mengapakah kalian menikah begitu cepat? Apakah kau sudah
sungguh-sungguh mengenalnya?” bertubi-tubi pertanyaann yang dilontarkan oleh
mereka tapi aku hanya jawab dengan sebuah senyuman manis, aku selalu berpikir
positif, “dulu kakek dan nenek kita menikah di jodohkan saja hanya bertemu
beberapa hari langsung nikah mereka langgeng juga ampe punya anak dan cucu
bahkan samapai mereka meninggal tetap setia, lalu apa salahnya jika aku menikah
dalam waktu yang cepat?” gerutu hati yang kesal akan celoteh orang-orang.
Diminggu pertama kita berumah
tangga memang dia begitu baik dan juga begitu perhatian, seolah seorang putri
yang sedang di puja-puja oleh sang pangeran. Perhatiannya tiap detik selalu
membanjiri jiwaku, pelukannya selalu menghangatkan tubuh ku yang kedinginan
disetiap malam, makan minum selalu bersama. Kulihat sesosok pria yang terbaring
di sampingku pagi ini, namun kurasakan sesuatu kejanggalan dimatanya, Anton
yang ku kenal dulu bukanlah anton yang ku kenal sekarang, dia berubah menjadi
penyendiri, enggan untuk mengatakan sepatah katapun untuk ku, dia seperti tak
mengenalku, dia terdiam seperti bisu, entah sihir apa yang sedang meraksuki
dirinya. Makan tak bernafsu, minum seperti tak mau, aku hanya bisa menatapnya
dengan penuh tanya tanpa ada jawaban dari mulut nya. “Oh Tuhan apa yang sedang
terjadi? Kembalikan lah suamiku yang dulu, cobaan apa yang sedang kau berikan
untuk rumah tangga ku ini?” ingin rasa nya menjerit untuk menghilangkan rasa
sakit hati ini. Ku tulis untaian kata di atas kertas putih tak bergaris, ku
tuangkan semua isi hati yang gundah dan resah ini.
Dimalam berikutnya ku sambut
suami ku dengan penuh cinta, ku ukurkan tangan dan ku kecup tangannya yang
lemas, “Pilang kerja kok lemes banget?” ku lemparkan senyuman manis dari bibir
ku, seolah tak ada masalah di antara kita aku terus melayani dia dengan sepenuh
hati, ku siapkan makanan di meja makan, dan ku tuangkan segelas air untuk
membasuhi dahaga suamiku, namun sikapnya tetap saja dingin. Semua kesabaran ku
telah hilang, akhirnya kuberanikan diiri untuk bertanya, “Sayank apakah ada
masalah yang berat hingga membuat mu tak tenang? Apakah ada kesalahan yang
pernah ku buat? Apakah yang terjadi hingga sikap mu seperti ini?”, Anton
menatapku dengan matanya yang sendu “maafkan aku, aku bukanlah laki-laki yang
sempurna, aku hanya manusia biasa yang selalu berbuat dosa, maafkan aku jika
kemunafikan dan kebohongan ini akan membuat mu sakit, aku hanya mencintai satu
wanita, dia Lina, Lina adalah mantan kekasihku terdahulu” tak lama kudengar
kata-kata menyakitkan itu air mataku berlinang membasahi kelopak mata, semakin
ku usap semakin deras mengalir air mata ini, seketika tubuh ini serasa beku,
tak dapat berbuat apa-apa selain menangis, suami ku yang selama ini aku cintai
dan selama ini hidup denganku ternyata tak mencintai ku, “lalu atas dasar apa
kau menikahi ku?” tanya ku dengan terbata-bata. “ku pikir dengan menikahi
seorang wanita bisa membuat ku melupakannya, ternyata tidak, cinta ku terhadap
Lina begitu besar, hingga sekarang dia akan menikah dengan pria lain hati dan
pikiran ku begitu kacau, maafkan aku selama ini memberikan cinta palsu untuk
mu, aku tak dapat menahan rasa ini, maafkan aku”.
Wanita mana yang tak merasa sakit
jika mengetahui orang yang selama ini dia cintai ternyata tak mencintainya?
Tapi jika aku melepaskannya hati ini juga sakit, karena ku sangat mencintainya,
hari-hari berlalu bagaikan hidup di neraka, Anton tak pernah lagi memberikan kasih
sayang nya, kita hidup satu rumah tapi bagaikan terhalang jarak yang jauh, dia
tak pernah mau lagi memeluk ku, aku bagaiakan sebuah sandal yang
kehilanagn pasangannya, di diamkan dan
di acuhkan, tak pernah digunakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar