Minggu, 25 Mei 2014

Bagaikan Sebuah Sandal



Pernah kah berpikir bahwa orang yang selama ini kita cinta adalah seseorang yang selalu menghianati kita? Pernah kah berpikir bahwa orang yang selama ini hidup bersama kita ternyata hatinya milik orang lain? Itulah seperti yang ku alami saat ini, aku Anisa aku dipersunting pria yang semula ku anggap sebagai pria baik hati yang mau menerima segala kekurangan ku, Dia Anton yang ku kenal 3 bulan yang lalu, kita menikah di bulan ke dua kita kenal dan jalan bersama, aku pikir smua kata cintanya itu tulus dari dalam hatinya, aku pikir hanya dengan mengandalkan bahwa aku mencintainya maka kita akan bahagia, ternyata tidak. Diawal pernikahanku ini banyak sekali sanak saudara yang menanyakan asal-usul pria idaman ku ini, “mengapakah kalian menikah begitu cepat? Apakah kau sudah sungguh-sungguh mengenalnya?” bertubi-tubi pertanyaann yang dilontarkan oleh mereka tapi aku hanya jawab dengan sebuah senyuman manis, aku selalu berpikir positif, “dulu kakek dan nenek kita menikah di jodohkan saja hanya bertemu beberapa hari langsung nikah mereka langgeng juga ampe punya anak dan cucu bahkan samapai mereka meninggal tetap setia, lalu apa salahnya jika aku menikah dalam waktu yang cepat?” gerutu hati yang kesal akan celoteh orang-orang.
Diminggu pertama kita berumah tangga memang dia begitu baik dan juga begitu perhatian, seolah seorang putri yang sedang di puja-puja oleh sang pangeran. Perhatiannya tiap detik selalu membanjiri jiwaku, pelukannya selalu menghangatkan tubuh ku yang kedinginan disetiap malam, makan minum selalu bersama. Kulihat sesosok pria yang terbaring di sampingku pagi ini, namun kurasakan sesuatu kejanggalan dimatanya, Anton yang ku kenal dulu bukanlah anton yang ku kenal sekarang, dia berubah menjadi penyendiri, enggan untuk mengatakan sepatah katapun untuk ku, dia seperti tak mengenalku, dia terdiam seperti bisu, entah sihir apa yang sedang meraksuki dirinya. Makan tak bernafsu, minum seperti tak mau, aku hanya bisa menatapnya dengan penuh tanya tanpa ada jawaban dari mulut nya. “Oh Tuhan apa yang sedang terjadi? Kembalikan lah suamiku yang dulu, cobaan apa yang sedang kau berikan untuk rumah tangga ku ini?” ingin rasa nya menjerit untuk menghilangkan rasa sakit hati ini. Ku tulis untaian kata di atas kertas putih tak bergaris, ku tuangkan semua isi hati yang gundah dan resah ini.
Dimalam berikutnya ku sambut suami ku dengan penuh cinta, ku ukurkan tangan dan ku kecup tangannya yang lemas, “Pilang kerja kok lemes banget?” ku lemparkan senyuman manis dari bibir ku, seolah tak ada masalah di antara kita aku terus melayani dia dengan sepenuh hati, ku siapkan makanan di meja makan, dan ku tuangkan segelas air untuk membasuhi dahaga suamiku, namun sikapnya tetap saja dingin. Semua kesabaran ku telah hilang, akhirnya kuberanikan diiri untuk bertanya, “Sayank apakah ada masalah yang berat hingga membuat mu tak tenang? Apakah ada kesalahan yang pernah ku buat? Apakah yang terjadi hingga sikap mu seperti ini?”, Anton menatapku dengan matanya yang sendu “maafkan aku, aku bukanlah laki-laki yang sempurna, aku hanya manusia biasa yang selalu berbuat dosa, maafkan aku jika kemunafikan dan kebohongan ini akan membuat mu sakit, aku hanya mencintai satu wanita, dia Lina, Lina adalah mantan kekasihku terdahulu” tak lama kudengar kata-kata menyakitkan itu air mataku berlinang membasahi kelopak mata, semakin ku usap semakin deras mengalir air mata ini, seketika tubuh ini serasa beku, tak dapat berbuat apa-apa selain menangis, suami ku yang selama ini aku cintai dan selama ini hidup denganku ternyata tak mencintai ku, “lalu atas dasar apa kau menikahi ku?” tanya ku dengan terbata-bata. “ku pikir dengan menikahi seorang wanita bisa membuat ku melupakannya, ternyata tidak, cinta ku terhadap Lina begitu besar, hingga sekarang dia akan menikah dengan pria lain hati dan pikiran ku begitu kacau, maafkan aku selama ini memberikan cinta palsu untuk mu, aku tak dapat menahan rasa ini, maafkan aku”.
Wanita mana yang tak merasa sakit jika mengetahui orang yang selama ini dia cintai ternyata tak mencintainya? Tapi jika aku melepaskannya hati ini juga sakit, karena ku sangat mencintainya, hari-hari berlalu bagaikan hidup di neraka, Anton tak pernah lagi memberikan kasih sayang nya, kita hidup satu rumah tapi bagaikan terhalang jarak yang jauh, dia tak pernah mau lagi memeluk ku, aku bagaiakan sebuah sandal yang kehilanagn  pasangannya, di diamkan dan di acuhkan, tak pernah digunakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar