Rabu, 21 Mei 2014

Bunga yang Dinanti

"Assalamualaikum" samar terdengar orang memberikan salam dari balik pintu, talama terdengar pula ketukan pintu seolah sesosok dibalik pintu itu menginginkan dibukakan pintu yang tertutup rapat, tak ku hiraukan ketukan pintu dan ucapan salam itu. Air mata tak mau berhenti mengalir keluar dari ujung mata mengalir di pipi membasahi luka yang terbuka dan membuat luka itu semakin perih, cinta ku hanyalah segelintir rasa dan sederet kisah panjang yang tak berujung bahagia, tak sperti di negeri dongeng cintaku ini dipenuhi dengan jarum-jarum kecil berkarat yang menusuk kedalam hati dan tak dapat dicabut lagi, akhir kisah yang sulit da sakit hanya itu yang terlukis. kudengar rintihan kecil dibalik pintu itu semakin menjadi, dialah pria yang selama ini hadir dimimpi, pria yang selalu ada disaat aku sedih, bahagia, terluka, tertawa bersama, namun sekarang ku harus menerima kenyataan bahwa dia akan segera menjadi  milik seorang wanita jalang yang diperintahkan oleh orang tua nya untuk merebut hati kekasihku.

Ya memang setelah bertahun-tahun ku menjalin kasih dengan Dion tak satupun keluarganya yang menyetujui kisah cinta kita, keluarganya selalu memandang ku dengan sebelah mata, memandang cinta ini tak ada artinya bila dibandingkan dengan harta yang mereka punya. "Nita aku mohon bukakanlah pintu ini untukku, aku rela kehilangan keluargaku asalkan jangan sampai kehilangan cintamu, cintamu begitu berharga bagiku, tanpa dirimu di sisiku apalah jadinya aku? hanya seonggok mayat hidup yang hanya bisa menghabiskan uang orang tuanya, itulah aku tanpamu. semenjak kehadiranmu duniaku berubah, maka jangan kau tinggalkan pria malang ini Nita, aku moohon" teriak Dion yang sedari tadi berdiri di sana. ku bukakan pintu itu untuknya, kurangkul dan kupeluk tubuhnya yang lemas, dia tak kuasa menahan tangis hingga tak berdaya untuk mengucapkan satu katapun dari bibirnya, kupersilahkan dia masuk dengan  nada yang tersedat karena menahan tangis "kamu masuk aja dulu, gak enak juga sama tetangga kalo mereka dengar". tak ada lagi kata yang diucapkan,, hanya mata yang berbicara, kita saling bertatap mata, kulihat matanya terus mengeluarkan air tanda cintanya, oh Tuhan apa yang harus kita lakukan dalam keadaan seperti ini? berpisah tak kuasa, bersamapun tak bisa. "Yon gak perlu kau tangisi semua kisah ini, kita dipersatukan karna cinta dan kita di pisahkan pula oleh cinta, jika cinta mengijinkan maka cintapun akan mempersatukan kembali hati yang telah terluka ini, hadapi kenyataan ini dan pulanglah, cinta ini akan menjadi sepenggal kisah kita yang tak akan terlupakan sepanjang masa, cinta ini akan kita simpan dan akan kita kubur bersama disaat jasad kita terbenam ditanah" kata terakhir ku sebelum kita berpisah.

Satu tahun telah berlalu, aku tak mendapatkan berita dari sang pujaan hati yang telah lama meninggalkan ku, apakah dia telah menikah? apakah dia masih mengharapkanku untuk menjadi pendampingnya? hanya Dion yang dapat menjawab semua itu, raga kita memang terpisah, tapi cinta kita takan pernah terpisan hingga akhir maut yang memisahkan kita, selamat tinggal Dion ku sayang, Cintamu bagaikan setangkai bunga yang indah, ada saatnya mekar dan ada saatnya layu, mungkin bunga ini sekarang layu dan mati tapi suatau saat nanti bunga ini akan tumbuh dan mekar indah melebihi bunga sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar