Kepergiannya mebuat hidup sepi, kesepian ini membuat hati
menjadi pilu, kepiluan ini membuat pikiran kacau, dan ke kacauan ini membuat
tubuh ini tak berdaya. Cintanya membuat ku buta, aku tak dapat lagi melihat
sosok cantik lemah gemulai di luar sana, yang aku mau hanyalah dia, dia dan
dia. Jojo hanyalah wanita biasa tapi dia telah memikat hati ini dan membawanya pergi
bersama cinta yang ku beri, cinta yang tulus dari hati yang selama ini aku
sematkan di hatinya, tapi apalah daya dia pergi meninggalkan ku.
Tuhan belum puas dengan apa yang aku derita saat ini,
Ditengah kesakitan datanglah sebuah undangan berwarna merah muda berbalut
taburan gambar bunga yang menghiasi racun hati, hati ini semakin sakit dan
semakin sakit, jika pepatah mengatakan “sudah
jatuh tertimpa tangga” maka yang terjadi denganku bukan hanya tertimpa
tangga tapi mungkin tertimpa gentengnya juga. Di kertas beracun itu tertulis
nama ku “Aji”, nama ku tertulis bukan mendampingi sang mempelai wanita, akan
tetapi menjadi tamu undangan di pesta pernikahan mereka berdua, saking sakitnya
hati ini aku tak kuasa untuk melihat nama mempelai pria yang menggantikan
posisi ku dihatinya, aku hanya bisa menangis, menangis dan menangis di setiap
waktu ku.
Betapa mudahnya Jojo melupakan ku dan memilih hidup dengan
pria lain selain aku, apakah dia sudah lupa dengan semua kenangan kita? Apakah dia
lupa dengan janji-janjinya? “aku tak akan meninggalkan mu, aku hanya milik
kamu, dan aku akan slalu dihatimu!” dia selalu mengatakan “aku dan perasaan ini
tak kan pernah berubah sedikitpun” tapi mana buktinya? Yang ada dia hanya
meninggalkan perih di hati, perih karena luka tergores cinta, cintanya tak
semanis parasnya. Kini tingallah sebongkah hati yang terluka, hati ini mediami
sebuah jiwa yang tak bernyawa.
Aku tak tau apa yang harus aku lakukan saat ini, mati susah
hiduppun susah, jika saja Tuhan bisa mengambil semua isi hati ini aku akan
berikan isi hati ini pada sosok pria yang menggantikan ku, agar dia bisa
mencintai wanita idaman ku seperti aku mencintainya. Biarkanlah aku tersiksa
asalkan dia bahagia, biarkanlah aku merana asal dia tak sengsara.
Hari-hari berlalu begitu cepat, hingga saatnya tiba, sang
putri di persunting oleh sang pangeran pilihannya, aku tak mampu untuk
menyaksikannya, yang bisa kulakukan hanyalah mendoakan dari balik dinding kamar
yang dingin ini. Aku hanyalah manusia biasa yang memiliki rasa benci dan juga
rasa iri, aku sangat membenci pria itu, dan aku sangat iri padanya, “mengapa selama
ini aku yang hidup bersamanya dan mengapa dia yang mendapatkannya? Tuhan
ambillah nyawa yang tak berguna ini, aku tak kuasa menahan penyiksaan dunia
yang pahit ini!” ingin rasanya aku menjerit, menjerit hingga suara ini hilang, hingga hati ini hilang dan hingga nyawa ini hilang.